berita

berita (3)

Perusahaan pengembang tentu sudah tidak asing dengan keluhan pelanggan yang siap menyerbu jika mereka tidak merasa puas. Begini solusinya

 

Suatu hari, sebuah kantor pengembang perumahan ramai oleh panggilan telepon yang berdering setiap jam sekali. Beberapa karyawan yang kelabakan untuk mengangkat telepon satu per satu.

Seorang karyawan menjawab panggilan telepon dengan ‘nada tinggi’. Tampak dari raut wajah yang memerah, dan sesekali tangan kanannya memegang kening.

 

Sementara karyawan lain, seorang wanita, mengangkat gagang telepon dan menjawab panggilan tersebut dengan santun. Ia tampak tenang, sesekali terlihat tersenyum.

Setelah selesai, keduanya tampak menghela nafas. Selidik punya selidik telepon tadi berasal dari konsumen yang mengeluhkan permasalahan rumah yang sudah dibeli. Keluhan pun beragam, mulai dari sanitair yang tidak lancar, banjir, kusen pintu yang terkelupas, biaya perawatan, dan lain-lain.

Satu hal yang terlihat, meskipun keduanya sama-sama menerima keluhan, respon yang diberikan berbeda.

Dikutip dari laman rumah.com Rabu (6/4/2016) ), Ben Ridler, EO New Zealand memberikan enam tips untuk mengatasi keluhan dari konsumen dengan tetap menjaga nama baik perusahaan pengembang properti Anda.

  1. Dengarkan keluhan pelanggan dengan seksama.

Tips pertama, Anda harus mendengarkan keluhan yang diutarakan konsumen. Baik melalui saluran telepon atau tatap muka langsung, tips ini wajib Anda lakukan.

Ingat, pada saat kali pertama konsumen bertemu Anda, pun mereka mendengarkan penjelasan Anda dalam memasarkan rumah, bukan?

Nah, ketika konsumen Anda sedang dilanda permasalahan pada rumahnya, kini giliran Anda untuk mendengarkan semua keluhan dengan seksama.

Pada saat mendengarkan usahakan agar Anda menahan diri untuk tidak memotong pembicaraanya.

Jika perlu, Anda sudah harus menyiapkan catatan kecil untuk menuliskan inti permasalahan yang dikeluhkan.

Sebagai catatan, JANGAN SEKALI-SEKALI MEMBELA DIRI saat berkomunikasi dengan konsumen, sebab, akan terlihat seperti Anda lari dari tanggung jawab.

  1. Ajukan pertanyaan sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan.

Kedua, Anda bisa mengajukan pertanyaan seperti sejak kapan kondisi itu terjadi, atau bagaimana selama ini penghuni rumah merawat rumah mereka.

Penting untuk Anda memahami perspektif konsumen. Sebab, bisa jadi jika merunut semua perspektif penghuni, Anda bisa dengan mudah menemukan kesimpulan dan solusi.

  1. Menempatkan diri pada posisi mereka.

Sebagai perusahaan pengembang properti, tujuan Anda adalah menyelesaikan permasalahan. Anda disarankan untuk tidak terlalu banyak berargumentasi.

Pada kondisi ini, konsumen membutuhkan Anda untuk merasakan seperti apa yang dirasakan olehnya. Intinya cobalah untuk berempati.

  1. Minta maaf tanpa menyalahkan.

Ketika seorang pelanggan merasa bahwa Anda sungguh-sungguh menyesal, biasanya meredakan situasi. Jangan salahkan orang atau departemen lain. Jadi dalam hal ini ucapan “Kami minta maaf soal itu” tindakan pertama yang terbaik.

  1. Ajukan apa yang bisa Anda bantu untuk permasalahan pelanggan.

Konsumen menyampaikan keluhannya tentu memiliki tujuan agar segera diberi tanggapan sebagai solusi. Pada saat semua keluhan tercatat semua oleh Anda, selanjutnya ajukan sebuah penawaran dalam bentuk pertanyaan kembali misalnya “Solusi apa dari kami yang bisa Anda terima?”

Berbicara solusi, Ridler mengungkapkan, sebenarnya solusi tidak harus difokuskan pada satu pilihan saja. Banyak pilihan solusi justru akan meringankan sakit hati dari konsumen.

Cara ini menunjukkan itikad baik Anda untuk menjadi mitra dengan konsumen dalam memecahkan masalah secara bersama.

  1. Atasi masalah dengan mencari pihak yang dapat menyeselaikan dengan cepat.

Terakhir, segera ‘pecahkan’ masalah dengan mencari pihak yang dapat menyelesaikan dengan cepat. Biasanya, konsumen akan lebih merasa dihormati dan ditanggapi, apabila pihak pemegang keputusan ikut bertemu dan memberikan solusi secara pasti.

Konsumen akan enggan menunggu solusi, apalagi jika tidak langsung diinstruksikan dari pemegang keputusan langsung.

Pemegang keputusan bisa diwakili oleh General Manager, Direktur, atau bahkan Owner. Setidaknya, konsumen akan sedikit mereda, karena pengakuan tadi.

 

Sumber : http://properti.liputan6.com/read/2475058/ini-6-langkah-ini-atasi-keluhan-dari-pembeli-rumah

Menjual rumah adalah hal yang gampang-gampang susah! Kenapa? Karena rumah merupakan jenis barang yang harganya terus naik, bisa ditempati sendiri atau disewakan bahkan pembeliannya pun bisa melalui bantuan Bank (KPR) , sehingga logikanya sangat mudah untuk menjualkan barang ini kepada orang lain.

Namun disisi lain ternyata banyak orang yang sulit menjual rumahnya, bahkan hingga lebih dari satu tahun belum laku juga padahal sudah diisi banner dijual langsung pemilik dan sudah iklan di Koran lokal. Kira-kira apa yang membuat rumah tersebut susah mendapatkan pembeli? Simak analisis tim Asialand berikut ini:

  1. Memasang harga terlalu tinggi

Ya, sering kali penjual rumah berfikir bahwa pembeli akan nego harga, sehingga sebaiknya harga di naikkan dulu untuk jaga-jaga nanti dinego. Namun hal ini sering membuat pembeli mundur duluan sebelum menawar harga, karena pikirnya rumah ini dijual dengan harga yang tidak masuk akal. Sebaiknya naikkan hanya maksimal 3% dari harga pasaran, dengan begitu calon pembeli masih punya semangat untuk tawar menawar rumah anda.

Ingat: pembeli juga survey beberapa rumah sebelum memutuskan menghubungi anda, jadi mereka juga tidak mau repot-repot menelepon rumah yang dijual dengan harga tidak masuk akal.

  1. Membiarkan kondisi rumah “apa adanya”

Maksud apa adanya disini adalah rumah dibiarkan dalam kondisi berantakan dan beberapa tampilan depan rumah tidak diservis sebelum dijual. Penjual berfikir, nanti setelah ada yang pasti beli barulah rumah di servis atau di bersihkan. Sedangkan pembeli cenderung ingin yang siap huni dalam kondisi OK. Ibaratnya, anak gadis yang mau dicarikan jodoh tentu harus didandani dan ditampilkan sisi positifnya, sehingga lebih banyak yang tertarik.

  1. Tidak punya waktu memperlihatkan lokasi rumah

Dikarenakan kesibukan pemilik, sering kali calon pembeli harus menyesuaikan jadwal untuk bisa melihat rumah tersebut. Padahal mereka ingin cepat melihat sehingga langsung mendapatkan keputusan membeli. Hal ini bisa diakali dengan cara menunjuk orang yang punya cukup waktu fleksibel untuk mengantar calon pembeli yang ingin melihat lokasi rumah dan fisik rumah tersebut.

  1. Tidak koperatif dengan pembeli

Sebagai orang yang butuh uang, anda sebaiknya cukup koperatif dengan calon pembeli serius rumah anda, misalnya menunjukkan IMB dan copy sertifikat tanah ketika pembeli ingin mengetahui apakah rumah ini memang memenuhi legalitas untuk diajukan KPR ke Bank. Jika anda mengulur-ulur waktu untuk memperlihatkan dokumen ini, pembeli bisa menjadi tidak yakin dan beralih kepada rumah lain.

Properti merupakan salah satu pilihan bisnis yang memberikan jaminan kepastian nilai keuntungan kepada investor. Hal ini terutama disebabkan karena bisnis ini melayani penyediaan kebutuhan pokok manusia dan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk properti.

Peluang keuntungan lainnya yang sangat menjanjikan adalah naikknya harga lahan setelah properti tersebut mulai dibangun. Biasanya sudah menjadi rahasia umum bahwa para pengembang bisnis properti pasti mendapatkan keuntungan dari nilai lahan tersebut minimal dua kali lipat dari harga perolehannya.              

Melonjaknya harga produk tersebut diakibatkan lahan yang tersedia semakin terbatas.  Beragam produk properti diantaranya rumah (Town House, ruko, klaster, rukan, apartemen, rusun), perhotelan (kondominium, motel, kondotel, vila), pertokoan (minimarket, hipermarket, supermarket, speciality store, mall, square, plaza, trade center) dan gedung lainnya (pabrik, perkantoran dan gudang).

Indonesia Merupakan Pasar Potensial Produk Properti

Alasan investor dunia memilih Indonesia khususnya Jakarta dan sekitarnya sebagai tempat berinvestasi properti karena jumlah kebutuhan atau demandyang sangat besar, disamping itu perekonomian India dan Cina melambat serta keterbatasan peluang pasar Australia dan Jepang di sektor properti.

Kemajuan perekonomian dalam negeri konsisten tumbuh 6% per tahun. Hal ini semakin mendorong investor asing kian gencar bergelut di bisnis properti tanah air. Tercatat 3 perusahaan pengembang properti dunia yang mulai melirik pasar Indonesia. Perusahaan itu berasal dari Australia, Hong Kong dan Selandia Baru.

Prospek Bisnis Properti di Tanah Air

Pesatnya pertumbuhan bisnis properti sejalan dengan perekonomian dalam negeri yang kian meningkat. Penanaman modal investor asing di sektor properti Indonesia yaitu pembelian dalam bentuk produk properti dan surat berharga dari perusahaan properti nasional.

Peluang besar bisnis ini juga dilirik oleh investor lokal. Besarnya minat investor tentu karena melihat cerahnya propek bisnis properti. Masalah yang sedang dialami bangsa Indonesia sekarang adalah tidak terpenuhinya jumlah permintaan akan sarana hunian yang ada.

Berdasarkan data statistik, terjadi kekurangan rumah berjumlah lebih kurang 15 juta unit. Permintaan akan hunian per tahun mencapai 700-800 ribu unit, sedangkan para pengembang hanya mampu menyediakan lebih kurang 400 ribu unit.

Ketimpangan jumlah permintaan ini merupakan bukti prospek properti yang masih menyimpan potensi yang sangat besar. Persaingan harga antar pengusaha properti pun menjadi hal yang umum terjadi. Mereka berlomba-lomba menawarkan harga ekonomis dengan fasilitas mewah.

Kondisi ini menjadikan ketertarikan di mata konsumen. Tak jarang, konsumen membeli properti bukan untuk pemenuhan kebutuhan tetapi sebagai investasi jangka panjang.

Kendala Bisnis Properti

Fenomena spekulasi properti terjadi di Indonesia berdampak buruk bagi investor. Adanya Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) memang membantu masyarakat jika digunakan sebagaimana mestinya. Namun sayangnya, mereka justru memanfaatkan untuk kepentingan yang lain.

Contohnya 1 banyak kejadian nasabah mengajukan lebih dari 1 KPR atau KPA. Perputaran uang menjadi terhambat dengan adanya fenomena semacam ini. Seharusnya nasabah menyelesaikan 1 kredit jika ingin mengambil properti berikutnya.

Hal ini sangat berdampak pada banyaknya kasus kredit macet yang terjadi, dimana nasabah tidak bisa membayar cicilan tepat waktu, bahkan ada yang baru membayar cicilan beberapa kali selanjutnya macet, dan akhirnya properti tersebut dilelang oleh pemberi kredit.

Akibatnya, harga produk properti lambat laju kenaikkannya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pengguna KPR dan KPA. Harga yang dibebankan tidak mengikuti harga pasaran. Artinya, nilai kredit tidak mengikuti pergerakan harga properti tahunan.

Disamping permasalahan diatas faktor tidak stabilnya kurs rupiah terhadap mata uang asing ikut memicu para investor berjaga-jaga dan mengambil sikap wait and see, mengingat harga material bangunan sangat dipengaruhi oleh mata uang asing serta dampak lainnya yaitu semakin turunnya daya beli masyarakat

Kebijakan Pemerintah atas Permasalahan Kepemilikan KPR & KPA

Atas inisiatif dari Pemerintah, sejak 1 September 2013 silam, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan mengenai rasio pinjaman terkait KPR. Kebijakan ini merupakan bentuk pencegahan krisis properti di Indonesia. KPR dan KPA akan dikendalikan supaya tidak disalahgunakan untuk alat spekulasi.

BI melarang pihak perbankan memberi keringanan atas fasilitas kredit dengan cara pemberian kredit uang muka. Selain itu juga membatasi pengajuan KPR dan KPA, yaitu hanya 1 rumah per nasabah. Disamping itu jumlah minimal uang muka KPR juga dinaikkan hingga 30% dan diharapkan minat konsumen membeli properti secara kredit dapat berkurang dan beralih ke sistem tunai.

Kelebihan sistem tunai yaitu jika dikalkulasikan akan lebih ringan dibanding kredit. Investor pun lebih diuntungkan dengan adanya sistem ini. Namun jika Anda belum memiliki cukup modal untuk pembelian secara tunai. KPR dan KPA adalah solusinya, gunakanlah sesuai dengan kebutuhan Anda.

Hindari perolehan keuntungan sepihak dalam bisnis properti. Sebab, bisnis properti menggandeng banyak pihak dalam mata rantai transaksinya. Dimulai dari investor/pemilik modal, kontraktor, marketing hingga akhirnya sampai ke konsumen.

 

Sumber : http://www.kembar.pro/2015/09/melihat-peluang-dan-kendala-bisnis-properti-di-indonesia.html